Ulang Tahun Negara Atau Balita?
Meski sedari kecil sampai sekarang saia belum pernah merayakan ulang tahun dengan mekanisme perayaan yang diakhiri dengan tiup lilin dan menyanyikan sebuah lagu wajib yang ada kata-kata ‘…panjang umurnya, panjang umurnya…’ itu. Tapi karena tren merayakan ulang tahun ini seakan sudah begitu akrab di daerah saia dan mungkin juga di daerah anda. Akhirnya meski tidak pernah merayakan tapi sesekali dua saia pernah menghadiri perayaan ulang tahun yang ditaja kerabat dekat. Di lihat dari agenda acaranya sepertinya terdapat kesamaan baik bagi mereka yang berkategori Balita (bayi di bawah lima tahun) dengan mereka yang di atas usia tersebut ataupun bagi yang telah di usia ambang batas. Kalaupun ada perbedaan barangkali terlihat dalam bentuk pestanya dan jumlah uang tunai yang melaksanakan pestanya. Meskipun ada yang kadang harus ngutang demi terlaksananya agenda tahunan ini.
Ya kalau anak-anak biasanya dihiasi dengan permainan anak dan lagu anak-anak. Meskipun tidak jarang sang anak menyanyikan lagu yang sering didendangkan kebanyakan orang muda. Sementara jika yang melakukan selebrasi adalah kaum muda mudi. Dapat dipastikan suasananya berbau keceriaan muda-mudi juga. Seperti setingan tempat duduk yang berpasangan sampai pada pesta ala rock ‘n roll dengan goyangan yang tetap dilakukan berpasangan. Meski ada yang dibumbui dengan do’a tapi tak jarang ada yang mengakhirinya dengan pesta minuman keras kadarluarsa. Bagaimana dengan pesta ulang tahun anda? Ada beda?
Meski ada beda atau tidak. Kalau boleh kita sepakati ulang tahun selalu identik dengan perayaan dan perayaannya selalu identik dengan keceriaan, kemeriahan, dan berbagai bentuk kesenangan lainnya. Kalau boleh dipersingkat lagi semuanya terangkum dalam satu kata ‘suka’ yang dirayakan dengan ‘suka-suka.’ Sepakat bukan? 
Dikarenakan namanya ulang tahun, berarti sampai sekarang artinya masih belum berubah yaitu kira-kira seperti ini “Terjadinya pengulangan hari kejadian yang disepakati dalam jangka waktu satu tahun atau kurang lebih 365 hari.” Sepertinya berpegang pada definisi seperti ini meskipun dengan tata bahasanya yang berbeda. Maka kita bisa melihat ulang tahun tidak hanya terjadi untuk mengenang kelahiran manusia saja. Awal kehadiran lembaga atau organisasi juga ditetapkan sebagai hari ulang tahun. Begitu juga dengan hari jadi perkawinan, mungkin juga hari perceraian, tapi kalau hari khitanan gimana?
Intinya perayaan ulang tahun, apapun bentuk yang akan diulang tahunkan sudah menjadi sesuatu yang lumrah. Hingga tak salahlah jika ada ulang tahun kabupaten, - -mungkin tidak usah heran nanti akan sering hadir ulang tahun kecamatan sampai ke ulang tahun RW/RT, minimal ulang tahun Pak RT/RWnya– ulang tahun Provinsi sampai kepada ulang tahun negara seperti negara kita yang lagi dalam momen perayaan hari jadinya ke-65 ini. Nah ini dia yang ingin saia coba renungkan dan kemudian harus saia tuliskan mengenai apakah pestaporia kemerdekaan bangsa ini nyaris sama dengan deskripsi yang agak sedikit panjang lebar mengenai ulang tahun tadi. Atau mungkin sama persis bukan hanya dengan sang muda-mudi saja tetapi dengan para balita tadi. 
Sejenak saia ingin mengajak kita untuk melihat kebelakang mengenai perayaan kemerdekaan negeri ini. Dimana perayaan kemerdekaan tanpa suka? Dimana perayaan kemerdekaan tanpa tawa, canda, bahagia? Dimana perayaan kemerdekaan tanpa mengeluarkan uang/harta? Jawaban saia tidak ada di mana-mana! Yupp karena memang seperti apa yang saia katakan tadi dan barangkali anda telah menyepakati mengenai keidentikan perayaan ulang tahun itu pada umumnya terangkum dalam kata ‘suka’ yang dirayakan dengan ‘suka-suka.’ Masih ingat?
Bahkan orang yang sebenarnya dalam keadaan dukapun ingin menyulap keadaan di waktu perayaan kemerdekaan ini menjadi suka. Terlepas bagaimana hati kecilnya. Saiapun tidak tahu.
Pengalaman tahun lalu saat masih tinggal di kos-kosan dalam sebuah komplek perumahan sederhana. Saia dan beberapa teman di bangunkan oleh suara dua orang wanita tepatnya saia panggil ibu yang inti kedatangannya adalah meminta sumbangan untuk mensukseskan perayaan kemerdekaan di area perumahan itu. Terlihatlah oleh saia kantong plasik transparan yang digunakan untuk mengumpulkan uang itu hanya berisi beberapa uang lembaran seribuan. Bahkan ada koin-koin senilai 500 dan 100nya. Rupanya memang sumbangan yang diminta itu tidak banyak. Ya akibat mintanya tidak banyak di komunitas yang tidak banyak uang. Akhirnya sang ibu tadi harus rela juga untuk menerima sumbangan yang tidak banyak.
Singkat kisahnya, saiapun bertanya: ‘Buk, uang segini rencananya mau dibuat untuk acara apa saja?’
‘Mungkin kita buat lomba makan kerupuk saja atau permainan anak lainnya….. yang penting nampak kita ikut memeriahkannya…’ Jawab ibu itu kira-kira sesuai dengan apa yang saia ingat. Saia pikir jawaban ibu sangat tepat, karena uang segitu kalau beli kerupuk memang dapatnya banyak, bahkan lebihnya bisa kami bawa pulang buat nambah menu makan malam.
Tapi bukan masalah kerupuk dan sisa kerupuknya yang jadi masalah. Tapi kalimat terakhirnya itulah yang membuat saia ingat dan teringat. Teringatnya karena beberapa hari yang lalu sang Ibu ini mengundang kami untuk mendo’a (membaca do’a) di rumahnya karena ada saudaranya yang meninggal dunia. Waktu itu suasana Ibu itu terlihat begitu berduka, tapi kali ini benar-benar menjadi suka. Ingin terlihat memeriahkan kemerdekaan.
Kejadian ini semakin menguatkan saia bahwa perayaan kemerdekaan itu memang penuh dengan ‘suka-suka’ meski yang merayakannya masih dalam suasana duka. Jadi apakah memang seharusnya begini perayaan kemerdekaan bangsa yang dulunya diraih dengan tetesan darah, deraian air mata, dan hembusan nyawa itu? 
Sebagai pribadi sungguh terkadang saia merasa sedih jika kemerdekaan dijadikan hanya sekedar ajang untuk bersuka ria atau hura-hura. Lebih parahnya kemerdekaan dijadikan ladang seribu acara yang ujung-ujungnya menghabiskan saldo negara hanya untuk biaya panitia. Di daerah kita juga tiada beda. Hiruk pikuknya hanya bernuansa suka. Kembali ujung-ujungnya harus mengeluarkan dana. Jika seperti ini, benarkah pesta kemerdekaan itu mempunyai makna yang sejalan dengan semangat untuk mengenang jasa para pahwalan? Atau justru kita menari-nari di atas penderitaan pendiri bangsa ini yang telah rela mati demi sebuah kata kemerdekaan.
Belum pernah saia melihat peringatan kemerdekaan bangsa di isi dengan semacam agenda renungan bersama mengani hakikat kemerdekaan itu sendiri. Renungan untuk merasakan kembali arti pengorbanan. Sebuah renungan yang bisa membawa kita secara bersama bisa memaknai kemerdekaan. Paling tidak mengingatkan kembali semangat heroiknya sang pejuang bangsa yang telah gugur mendahului kita. Bagaimana mereka meskipun tanpa iming-iming materi atau kekuasaan tapi rela mengorbankan nyawa. Semua ini bisa di isi dengan ceramah kemerdekaan, bukan pidato kenegaraan saja. Bisa juga dengan pemutaran film tentang pahlawan bangsa atau cerita napak tilas perjalanannya sehingga mencapai kemerdekaan. Saia pikir banyak para pakar yang bisa mendesainnya dan masih banyak file sejarah yang tersimpan rapi untuk kita ungkapkan kembali.
Tanpa berburuk sangka, barangkali ada yang melakukan perayaannya demikian. Tapi kalaupun ada ianya hanya sangat minoritas. Itu kalaupun ada. Maka tak heranlah jika banyak generasi muda melupakan sejarah perjuangan bangsanya. Banyak generasi muda sudah tak kenal lagi dengan pahlawan bangsanya. Semuanya tidak lain dikarenakan kebiasaan perayaan kemerdekaan tidak lebih di isi dengan pesta warna-warni, pesta menghias, main ini, main itu, yang semuanya terangkum dalam kata ‘suka’ persis perayaan ulang tahunnya BALITA. Semua suka-suka, tiada air mata. Mungkin masih beruntunglah jika kita kepesta ulang tahunnya BALITA, karena pesertanya balita biasanya masih diwarnai dengan tangisan-tangisan bayi. Meski yang ditangisinya kita tidak tahu. Mungkinkah tangisan itu mengenai nasib bangasanya. Bisa saja, siapa tahu? Sementara kemerdekaan bangsa ini? Kemerdekaannya hanya selalu dirayakan dengan tawa, canda, dan hura-hura. Bahkan tanpa tangis sama sekali. Sungguh mengharukan.
Akhirnya tanpa perbanyak kata lagi, saia hanya bisa berkata :Maafkanlah saia dan kami ini wahai Bunda Pertiwi

Sehari setelah hari jadi Bangsa ke 65
Dari saia yang masih belajar mencitai bangsa dengan sepenuh hati…
Salam kemerdekaan hakiki,


Hmmmm, btul btul btul.
Sedih liat HUT RI yg cma penuh dg hura2. So, bsk jdi panitia peringatan HUT RI aj, minimal dri tingkat RT, biar bsa merealisasikan agenda yg diinginkan itu
O y, btw rasa suka itu mungkin sbg perwujudan telah merdekanya bangsa ini. Jdi ada wajarnya jg klo masyarakat Indonesia merayakannya dg suka cita. tpi bkn dg hura2.
Sederhananya kalo ‘mungkin’ berarti masih terdapat celah untuk perkembangbiakan perilaku lainnya disitu, inilah yg jadi msalahnya mungkinkah itu perwujudan rasa suka? munginkah hanya sekedar suka-suka? kalo perwujudan rasa suka haruskah dengan hura-hura dan gegap gempita?
ehmm segitu aj dulu pertanyaannya
Nggak hrs.