Lompat ke isi

Mau Hidup? Harus Mw Brrrr-masalah…

Agustus 13, 2010

Siapakah yang pernah hidup tanpa masalah? Jika ada, saia berani mengatakan justru orang seperti inilah yang hakekatnya sangat bermasalah. Dunia ini setau saia adalah akumulasi dari berbagai masalah. Mulai kita bangun tidur sampai kita tidur lagi. Mulai dari kita lahir sampai kita di masukkan ke alam kubur. Baik berupa masalah yang kecil sampai segede gedenya masalah pasti akan menghampiri.

Saia yakin, masalah adalah sesuatu yang mutlak akan hinggap dalam kehidupan makhluk yang bernama manusia. Cuman yang terpenting itu adalah bagaimana kita memperlakukannya. Terlalu mengabaikannya juga tidak baik. seperti para aktor pemabuk yang suka minum minuman keras dan berjudi. Atau koruptor yang telah merengguk kekayaan dengan memakan hak orang lain. Tapi mereka sungguh seolah-olah merasa apa yang dilakukannya itu bukanlah suatu masalah. Na’udzubillah semoga kita terlindung dari perilaku semacam ini.

Beda lagi dengan tipe yang selalu hiperbolis dalam mempermasalahkan masalah. Tanpa sadar kadang kita sering gontok-gontokan dengan sariawan yang hinggap di bibir kita. Padahal kita lupa masih besar nikmat sehat yang didapatkan dibandingkan dengan mereka yang hari ini terbaring di ruang emergency dengan kondisi sekeritis-keritisnya.

Atau sering juga kita memarahi orang yang telat beberapa menit. Walaupun itu alasannya jelas. Tapi tetap saja dimarahi. Padahal seharusnya bersyukur orang tersebut mau datang. Padahal kita sendiri juga dalam keadaan terlambat.

Hal serupa lainnya bisa kita lihat saat-saat di tempat keramaian, misalnya pasar. Bisa juga dalam perjalanan. Dalam situasi seperti ini biasanya percikan api bisa menjadi kebakaran yang besar. Gara-gara 1000 rupiah, orang rela saling memaki, bahkan saling mengeluarkan baku hantam.

Nah menurut saia jenis makhluk seperti ini seharusnya dimumikan saja. Biar dunia ini aman bin damai. Hehe… Lha kalau dunia ini aman dan damai. Apakah masalah akan usai bertamu kepada kita? Upss belum tentu. Sesuai dengan hakekat yang saia nyatakan di awal tadi. Maka berarti masalah itu akan tetap ada. Cuman wujudnya saja yang berbeda.

Untuk melihat wujud yang berbeda ini bisa saia ilustrasikan pada kehidupan si kaya dan si miskin. Meskipun orang kaya tidak mempunyai masalah dalam memenuhi kebutuhan hidupnya seperti yang menjadi masalah orang miskin. Tapi belum tentu orang kaya bisa tidur malam senyenyak orang miskin. Mengapa? Karena orang miskin kalau mimpi kaya pasti senyum-senyum. Seolah-olah itu adalah anugerah baginya. Sementara kalo orang kaya dapat mimpi jadi orang miskin, pasti manyunkan? Karena baginya itu adalah musibah.

Meski tidak seluruhnya si miskin dan si kaya seperti itu. Karena ada juga orang miskin yang takut bertambah masalah kalau menjadi kaya. Katanya khawatir menjadi budak dunia. Segitunya? Pastinya hanya orang miskinlah yang tahu. Begitu juga sama yang kaya. Ada juga yang gaya hidupnya seperti orang miskin. Emang ada ya? Persisnya hanya orang kayalah yang tahu. Ehmm kalo orang kaya yang mode bajunya seperti kekurangan bahan dan celananya yang sengaja disobek-sobekkan itu gimana? Ehmm…

Konklusinya setiap kita pasti mendapat masalah. Apakah itu berbentuk anugerah ataupun sebuah musibah. Karena anugerah yang tidak bisa di apresiasikan dengan santun justru akan menjadi bumerang sehingga berbuah musibah. Bagi yang mendapat musibah, jika dijalankan dengan iklhas dan penuh instropeksi kadang akan menjadi sebuah anugerah. Anugerah bisa jadi musibah. Musibah bisa jadi anugerah. Begitulah.

Sekarang yang terpenting bagi kita adalah menjadi orang-orang yang beruntung. Orang yang beruntung bukan berarti selalu mendapat anugerah, tanpa musibah. Lantas seperti apakah garangan? Yang jelas ia bukan pelangi-pelangi ciptaaan tuhan. Ia adalah orang-orang yang selalu bersyukur dan bersabar. Bila mendapat nikmat dia bersyukur. Bila mendapat musibah dia bersabar.

Namun, manusia pada umumnya mempunyai sifat gembira dan bangga saat mendapat nikmat. Sebaliknya akan berputus asa apabila ditimpa musibah. Tidak cukup berputus asa, malah marah-marah. Inilah orang-orang yang agendanya hanya selalu mempermasalahkan masalah. Memperbesarkan masalah. Padahal itu sama artinya dengan mendoublekan masalah. Malah trible atau lebih. Semoga kita tidak termasuk golongan terakhir ini.

Sebagai renungan, ingatkah kita salah satu cerita dalam siroh nabawiyah mengenai salah seorang wanita dari Bani Dinar yang berpasan dengan rombongan Rasulullah yang pulang dari ‘kekalahan’ perang uhud? Sungguh luar biasa, wanita yang setelah mendapat kabar bahwa suami, ayah dan saudaranya yang telah terbunuh di perang uhud ini malah kemudian mempertanyakan keadaan Rasulullah SAW. Setelah tahu dan melihat Rasul selamat, beliaupun berkata kepada sang Rasul ‘setiap musibah, asal tidak menimpa engkau adalah kecil’. Luar biasa bukan?

Satu komentar leave one →
  1. Oktober 11, 2010 8:53 pm

    Setiap ke sini, setiap liat nama saya diantara tempo, media indonesia dll
    setiap itu pula saya ketawa :D

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.