Menikmati Kesalahan
Andaikan hari ini saia dinobatkan sebagai orang terbaik dunia karena sedikit berbuat kesalahan maka pada hari ini pula saia menjadi orang yang akan susah dan sulit untuk menikmati kesalahan. Padahal menikmati kesalahan itu adalah suatu keharusan yang harus dimiliki oleh setiap insan bernama manusia. Paling tidak menurut apa yang saia pahami…
Ehmm apakah pernyataan saia salah? Maaf teman, tulisan ini diketik dan disebarkan bukan untuk upaya menggonjang-ganjingkan pemikiran. Tidak sama sekali. Jadi baca dulu, baru komentar. Okay? Kalau sebelum membaca sudah berkomentar berarti anda termasuk orang yang tidak menikmati kesalahan. Sekali lagi ini menurut saia! Tapi semua terserah anda, mau baca dulu atau komentar dulu!
Dari pengamatan keseharian terutama melalui info televisi yang selalu menghadirkan orang-orang yang salah membuat saia harus dengan ‘terpaksa’ menuliskan tulisan ini. Coba perhatikan sangking sulitnya untuk membuktikan kesalahan yang semua pihak sudah mempersalahkannya, namun kenyataannya dia seperti tidak bersalah. Disinilah letak ketiadaan dari pelaku salah dalam menikmati kesalahan yang diperbuatnya.
Akibat ketiadaan dari sang pelaku salah dalam menikmati kesalahannya ini akan memunculkan berbagai perilaku salah pada diri orang lainnya. Bedanya ‘turunan’ dalam ilmu matematika yang semakin mengecil, tetapi turunan perilaku kesalahan dari mereka yang tidak menikmati kesalahan ini justru sebaliknya. Semakin membesar, menggejala di berbagai kehidupan orang lainnya.
Misalnya gini. Ada pelaku adegan mesum yang sudah jelas-jelas semua orang -baik dari sisi tegak, sisi miring, dan sisi lainnya termasuk misalnya sisi dunia lain- mengatakan pelakunya adalah dia. Tapi karena dia bukan tipe orang yang menikmati kesalahan dia pasti tidak mengakuinya. Akibatnya setiap orang akan selalu membicarakannya, bahkan ada yang memakinya. Apakah memaki itu suatu kesalahan? Selanjutnya akibat dia ngotot tidak mengaku salah, muncullah orang yang ingin mengambil simpati dan mendukungnya seolah-olah dia tidak salah. Apakah mendukung suatu yang salah itu salah? dan seterusnya akan ada beragam kesalahan baru yang diciptakan oleh orang yang tidak menikmati kesalahan ini. Baik itu yang diciptakannya kepada orang lain, ataupun yang akan terjadi pada dirinya. Bukankah kebohongan itu akan memunculkan kebohongan-kebohongan baru?
Dalam konteks lain, kurangnya rasa menikmati kesalahan ini dapat kita lihat dalam dunia pendidikan. Saia ambil contoh UN alias Ujian Na’as, ehh maksudnya Ujian Nasional. Akibat ketiadaan menikmati kesalahan. Semua pihak saling menyalahkan. Siswa menyalahkan guru, guru menyalahkan sekolah, sekolah menyalahkan pemerintah, pemerintah menyalahkan sekolah, sekolah menyalahkan guru, guru menyalahkan siswa. Begitulah lingkaran yang terjadi. Saling menyalahkan. 
Sekarang coba semua pihak itu menjadi penikmat kesalahan. Pasti tidak akan muncul sikap saling salah menyalahi. Ketahuilah menikmati kesalahan akan membawa kita untuk tahu apa sebenarnya perbuatan salah yang telah diperbuat. Dengan mengetahui perbuatan salah yang diperbuat tentu akan semakin nikmat juga untuk memperbaiki diri melakukan yang terbaik. Bukankah begitu?
Begitulah bagaimana pentingnya menikmati kesalahan. Ingat bukan menikmati berbuat salah. Karena orang yang menikmati perbuatan salahnya bukanlah orang yang menikmati kesalahan. Formula lainnya adalah semakin merasa benar (ingat bukan benar, tapi merasa benar) seseorang maka akan semakin sulit usahanya untuk menikmati kesalahan. Makanya diawal tulisan jika posisi saia seperti itu, maka saia mengatakannya saia adalah orang yang akan susah menikmati kesalahan. Karena awalnya saia sudah merasa benar bukan? Apalagi pakai acara penobatan segala, hehe
Jadi kehadiran tulisan ini tidak lain hanya sebuah upaya mengajak kita (terutama sang saianya) untuk mengakui sebuah kesalahan yang diperbuat. Jadi orang yang menikmati kesalahan adalah orang yang sadar akan kesalahan yang diperbuat dan mengakuinya. Persis seperti orang yang sedang menikmati minuman kopi. Pasti dia sadar akan apa yang diminumnya dan mengakui bahwa dia sedang minum kopi. Karena dianya memang penikmat kopi. Tapi coba perhatikan orang yang bukan penikmat kopi. Ketika kopi itu habis dihirupnya namun tetap saja dia tidak akan mengakui bahwa dia sedang menikmati kopi. Padahal tadi dia minum kopi. Nyambung nggak ya? Hehe
Gini aja, intinya dari tulisan ini saia ingin mengatakan:
“Menikmati kesalahan lebih baik dari pada melempar kesalahan hanya untuk lebih berarti”
Bukankah para penemu besar misalkan seperti Thomas Alfa Edison yang telah menemukan bola lampu itu merupakan orang yang mampu menghasilkan karya adi luhungnya setelah mereka benar-benar menikmati kesalahannya? Mereka tidak menyalahkan orang lain atau siapapun itu akibat kesalahan yang diperbuat. Tetapi mereka perbaiki diri apa penyebab salahnya. Jadilah mereka besar akibat dari menikmati kesalahan itu…
Yuukk nikmati kesalahan, jangan saling lempar kesalahan


kalo menikmati takdir udah dhe, giliran menjemput takdir, he..
eh, maksudnya menikmati salah sih udah tinggal menjemput takdir sekarang
Sekarang mau menikmat-menikmati duluuu.. baru jemput menjemput… hehe