Jangan Salahkan Pengamat!
Saat pertandingan, apalagi pada pertandingan perebutan piala dunia yang hotnya beda tipis dengan kasus video hot yang dihot-hotkan dalam beberapa minggu ini. Dengan seksama kita bisa melihat para pecinta olahraga bola tentu akan memberikan perhatian lebih dalam untuk pertandingan tersebut. Pengamatan terfokus pada gerak gerik sang pemain. Bahkan sekilas dan sedetikpun larinya bola kaki tidak pernah lari dari kedua bola matanya. Meskipun perhatian itu kadang hanya melalui layar kaca. Karena keseriusan pengamatannya, maka sang pemain -yang sudah pasti tidak mengenal siapa dia- pasti akan mendapat koreksi –jika tidak ingin dikatakan cacian- di saat berbuat sedikit kesalahan. Ingat, meski sedikit kesalahan. Setidaknya kesalahan versi dia, sang pengamat!
Padahal itu belum tentu salah menurut pemain.
Tak cukup ‘mengoreksi’ saat pertandingan berlangsung. Pengkoreksian ini terus berlanjut pada perbincangan keesokan harinya. Baik ketika belajar, ketika kerja, ketika makan, ketika di pasar, atau ketika di manapun berada, kecuali di WC. Itupun karena kebetulan sendiri. Meskipun tidak ada yang menjamin khyalannya di bilik termenung itu masih bernuansa bola, bola dan bola.
Inti pembicaran tersebut tidak lain mengarahkan kepada kata ‘seharusnya’. Yang menurut mereka seharusnya begitulah yang benar. Semuanya ini diperkuat dengan kehadiran pengamat ‘legal’ yang sering memberikan komentarnya di saluran televisi saat pertandingan berlangsung. Ataupun di berbagai media cetak lainnya. Pastinya legal atau tidak, tapi fokus pernyataannya tetap sama, yaitu ‘seharusnya.’
Contoh sederhana di atas hanyalah sepersekian persen dari kisah suksesnya seorang pengamat. Kisah serupa akan sering kita jumpai di berbagai tempat, berbagai acara, berbagai moment, dan berbagai situasi dan kondisi termasuk jualah di tempat yang bernama WC tadi. Kita sepertinya dijamin tidak akan bisa menghindarinya.
Ada yang menyalahkan yang benar dan ada yang menyalahkan yang memang benar salah. Ada yang berdasarkan analisis yang disertai rujukan ilmiah, ada juga yang asal bunyi saja dan bicara sesuka hati. 
Dan..… walaubagaimanapun selagi kita masih beridentitas sebagai makhluk yang namanya manusia. Hidup pasti tidak akan pernah bisa menghidari yang namanya pengamat ini. Sedangkan binantang aja kadang sering dipersalahkan bukan?
Jadi gini…
Sebenarnya menurut saia, apapun jenis pengamatannya baik yang berjenis ilmiah atau asal tadi. Dan siapapun pengamatnya. Semuanya tidak perlu kita permasalahkan.
Harus disadari. Kadang memang ketika ada hasil pengamatan negatif yang menjurus kepada kita, kita marah, menyalahkan. Biasanya sampai keluar kata ‘ah kamu itu tidak tahu sebenarnya, saia lebih tahu, karena saia yang mengalaminya’. Parahnya lagi dengan kalimat seperti itu kita juga mengeluarkan statement melalui pengamatan sekilas kepada orang yang memberikan hasil pengamatan negatifnya itu. Maksudnya gini, karena dia mengamati ada yang salah dari apa yang kita lakukan dan dia mengatakannya kepada kita , eh malah kita langsung menyalahkan juga terhadapa apa yang dia kerjakan. Bahkan bisa jadi waktu itu kita belum mengamati apa yang dia kerjakan.
Sebaliknya, kalau ada hasil pengamatan orang tehadap kita yang bersifat positif. Kita dengan cepat mengapresiasikannya. Bahkan sambil senyum-senyum sendiri. Padahal itu belum tentu benar. Ibaratnya (katanya) kisah seorang pria yang sedikit gombal untuk menarik hati sang pujaan hatinya. Karena selalu dipuja dengan beragam pujian, sang wanitapun langsung tersanjung sambil tersipu malu. Tapi coba kalau ada yang mengatakan ‘kamu jelek’ dan sejenisnya. Marahkah sampeyan?
Memang ternyata tidak sepenuhnya yang bernama pengamat itu salah. Kalaupun dia salah, jangan sampai kita yang diamati malah ikut-ikutan salah atau menyalahkan. Kalaupun ada pengamat yang benar, kita jangan merasa kePDan dulu. Bisa jadi itu hanya benar menurut dia, sementara kita yang mengetahui siapa kita sendiri sudah pasti tahu apa yang dibenarkan itu sebenarnya tidak benar.
Balik kekisah sepak bola. Pemain sepak bola handal tidak akan terlalu berpengaruh hanya akibat arahan penontonnya. Karena dia yang paling tahu situasi lapangan sepak bola itu. Kalaupun ada hujatan, pemain itupun tidak akan serta merta marah atas hujatan kesalahan yang diberikan oleh penonton akibat ‘kesalahan’ yang diperbuatnya. Dia akan terus bermain sesuai dengan apa yang dianggapnya benar dan dibenarkan oleh kebanyakan orang yang benar sesuai dengan teori yang benar. Begitu juga dalam realitas hidup di sisi lainnya. Berbuatlah selagi benar! Bukan karena sesiapa. Apalagi karena pengamat!


pengamat memang lebih penting dari pada pemain…
iyee… tanpe pengamat hidup tak berarti… hehe
Jadi kalo ad orang cakap2 macam2… santai ajheee…
yUP, ya begitu tak semua orang menyukai sikap kita, ada yang pro dan ada yang kontra.
Kalo kita dibilang jelek ya gak usah marah, kan takdir ^^
hidup itu akan slalu ad pro dan ad kontra, ada baik ada jelek, ada gini ada gitu… dan oleh karenaNYA mengapa diciptakan Surga dan neraka
Lagi puasa nulis ya dhe..
bukan… cuman puasa posting…
kan nyambut puasa ramadhan… lha?? *ngeles mode on
hehe